Selasa, 06 Desember 2011

Teknik Konstruksi Jalan Di Atas Tanah Ekspansif

anah ekspansif adalah tanah atau batuan yang kandungan lempungnya memiliki potensi kembang-susut akibat perubahan kadar air.
Tanah ekspansif memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis tanah pada umumnya yaitu:
Mineral Lempung
Mineral lempung yang menyebabkan perubahan volume umumnya mengandung montmorillonite atau vermiculite, sedangkan illite dan kaolinite dapat bersifat ekspansif bila ukuran partikelnya sangat halus.
Kimia Tanah
Meningkatnya konsentrasi kation dan bertambahnya tinggi valensi kation dapat menghambat pengembangan tanah.
Plastisitas
Tanah dengan indeks plastisitas dan batas cair yang tinggi mempunyai potensi untuk mengembang yang lebih besar.
Struktur Tanah
Tanah lempung yang berflokulasi cenderung bersifat lebih ekspansif dibandingkan denganyang terdispersi.
Berat Isi Kering
Tanah yang mempunyai berat isi kering yang tinggi menunjukkan jarak antar partikel yang kecil, hal ini berarti gaya tolak yang besar dan potensi pengembangan yang tinggi.
Penanganan konstruksi jalan diatas tanah ekspansif pada prinsipnya adalah menjaga agar perubahan kadar air tidak terlalu tinggi atau dengan mengubah sifat tanah lempung ekspansif menjadi tidak ekspansif. Dengan adanya perubahan kadar air yang tidak terlalu tinggi dan perubahan sifat ekspansif tanah pada periode musim hujan dan kemarau, maka tidak terjadi perubahan volume yang berarti.
Metode penanganan tanah ekspansif difokuskan ke dalam dua hal yaitu perencanaan konstruksi jalan baru dan perbaikan konstruksi jalan lama. Usaha penanganan yang paling penting adalah mengupayakan agar tanah lempung tidak menimbulkan kerusakan pada struktur perkerasan jalan. Oleh karena itu penanganan harus dilakukan dengan beberapa altenatif untuk mengetahui sifat tanah lempung yang akan dicegah atau diubah sifatnya.
Berikut beberapa alternatif metode-metode konstruksi di atas tanah ekspansif:
1. Penggantian Material
Metode penggantian material tanah ekspansif pada prinsipnya merupakan penguranagn seluruh atau sebagian tanah ekspansif sampai pada kedalaman tertentu, sehingga fluktuasi kadar air akan terjadi sekitar ketebalan tanah pengganti. Material tanah pengganti harus terdiri dari tanah yang non ekspansif agar tidak menimbulkan masalah kembang-susut tanah lagi dibawah konstruksi jalan.
Meksipun demikian masalah akan timbul apabila lapisan tanah yang berpotensi ekspansif sangat tebal, sehingga penggantian tanah seluruhnya menjadi tidak ekonomis. Untuk itu, penentuan kedalaman tanah yang akan diganti perlu dipertimbangkan terhadap besarnya kekuatan mengembang yang berlebih. Berat sendiri timbunan material pengganti harus cukup mampu menahan gaya angkat tanah ekspansif yang berada di bawah material pengganti, sehingga pengembangan atau penyusutan tidak lagi berpengaruh terhadap material di atasnya. Secara teoritis besarnya pengangkatan tanah dapat dihitung dari hasil uji laboratorium, tetapi pengangkatan tanah di lapangan umumnya kurang lebih sepertiga dari estimasi hasil uji laboratorium. Kedalaman tanah ekspansif yang akan diganti minimal setebal 1,0 meter.
2. Manajemen air
Desain drainase merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam manajemen air pada konstruksi jalan diatas tanah ekspansif. Baik buruknya kinerja perkerasan jalan tergantung kepada kondisi drainase permukaan maupun bawah permukaan. Salah satu faktor yang memicu perubahan volume tanah ekspansif sehingga dapat merusak lapis perkerasan adalah kurang berfungsinya drainase permukaan.Hal ini ditandai dengan terjadinya genangan air pada saluran samping, lunaknya tanah pada saluran dan tumbuhnya tanaman atau pepohonan akibat terendamnya lingkungan sekitar.
Drainase bawah permukaan berfungsi untuk mencegah aliran air bebas dan menurunkan muka air tanah. Aliran air yang menuju ke arah bawah badan jalan akan terhalangi oleh  drainase tersebut, sehingga aliran air akan terputus dan mengalir melalui saluran drainase ke daerah pembunangan air. Dengan tidak masuknya air ke bawah badan jalan, maka pengaruh muka air tanah terhadap lapisan perkerasan akan berkurang, sehingga perubahan kadar air yang besar akan relatif terjaga.
3. Stabilisasi
Penggunaan metode stabilisasi tanah ekspansif bertujuan untuk menurunkan nilai indeks plastisitas dan potensi mengembang yaitu dengan mengurangi prosentase butiran halus atau kadar lempungnya antara lain:
- Stabilisasi dengan kapur
- Stabilisasi dengan semen
- Stabilisasi dengan membran
- Stabilisasi dengan pembebanan
Sumber:
Penanganan Tanah Ekspansif Untuk Konstruksi Jalan (unduh disini)
Pedoman Konstruksi dan Bangunan (Pd T-10-2005-B)
Departemen Pekerjaan Umum

Kamis, 20 Oktober 2011

PERANCANGAN GEOMETRIK JALAN

Pertimbangan dalam PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN antara lain :
*  Sebisa mungkin pilih jalur terpendek
*  Perhatikan topografi & geologi
          -  Tidak banyak tikungan tajam
          -  Tidak banyak tanjakan dan turunan
          -  Hindari daerah patahan dan gempa
          -  Tidak banyak memotong tali air dan sungai
*  Perhitungan beban lalu lintas yang dilayani jalan
*  Memperhatikan jarak pandang dan kecepatan
*  Galian dan timbunan sesedikit mungkin.


Lebih lengkapnya terdapat di Tata Cara PGJ Antar Kota menurut DEP. PU. BINA MARGA 1997

Tata caranya dapat di download disini  http://www.ziddu.com/download/14900822/TataCaraPGJAntarKota.pdf.html

sumber : http://antonnugroz.blogspot.com/2011/05/perancangan-geometrik-jalan.html

Inspeksi Keselamatan Jalan dan Pemanfaatan Hawkeye di Dalam Pelaksanaan Inspeksi Keselamatan Jalan

ABSTRAK
Untuk mengantisipasi kebutuhan direktorat teknis paska pemberlakuan UU No. 22 Tahun 2009 terutama di dalam upaya meningkatkan kualitas keselamatan jalan melalui Inspeksi Keselamatan Jalan, metoda dan teknologi pendukung inspeksi keselamatan jalan sangat dibutuhkan. Makalah ini mengetengahkan konsep inspeksi keselamatan jalan serta pemanfaatan Hawkeye di dalam pelaksanaan inspeksi keselamatan jalan. Pengumpulan data pada tahun anggaran 2009 dalam kegiatan pengkinian Sisjatan, Pusjatan telah memanfaatkan Hawkeye untuk mendata kondisi geometrik jalan serta lalu lintas di sepanjang ruas jalan. Hawkeye yang memiliki fasilitas untuk memotret kondisi lalu lintas dan lingkungan jalan secara visual serta kemampuannya di dalam mendata geometrik jalan dipandang sangat bermanfaat untuk membantu pelaksanaan inspeksi keselamatan jalan. Inspeksi keselamatan jalan merupakan pemeriksaan lapangan yang sistematis oleh ahli keselamatan jalan untuk mengidentifikasi defisiensi keselamatan terkait dengan penurunan kinerja geometrik, perkerasan, fasilitas pelengkap jalan yang dipandang berpotensi menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Makalah ini lebih lanjut memaparkan konsep pelaksanaan inspeksi keselamatan jalan untuk ruas jalan pada umumnya. Konsep ini diharapkan dapat membantu para perencana dan perekayasa keselamatan jalan di dalam upaya meningkatkan keselamatan jalan terutama pada proyek-proyek preservasi jalan.
Kata Kunci: Inspeksi Keselamatan Jalan, hawkeye, defisiensi keselamatan jalan, capacity expantion, preservasi jalan

Kaji Ulang Kemiringan Permukaan di Ruas Tikungan Cipularang

Kaji Ulang Kemiringan Permukaan di Ruas Tikungan Cipularang
Seorang petugas Jasa Marga, tengah memasang rambu-rambu lalu lintas di tol Purbaleunyi KM 77 Jumat (9/9). Pemasangan rambu lalu lintas tersebut karena di daerah tersebut sering terjadi kecelakaan lalu lintas.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Banyaknya kecelakaan di Tol Cipularang, harus ditinjau dari beragam faktor. Baik konstruksi jalan maupun kendaraan yang melintas.

Praktisi konstruksi jalan, Nana Priatna, berpendapat ada beberapa persoalan yang memicu rawannya kecelakaan terjadi di Tol Cipularang. Imbas aerodinamika akibat kendaraan mendahului, kata dia, adalah satu faktor yang sangat terasa di ruas ini.

Faktor lain yang patut dicurigai, sebut Nana, adalah super elevasi melintang dari geometrik jalan. Faktor ini terkait dengan penentu kemiringan permukaan (bukan turunan atau tanjakan, tapi sebidang yang sama), di suatu ruas yang menikung sekaligus turun atau menanjak bersamaan. "Ini yang berdampak pada gaya sentrifugal atau sentripetal dari kondisi jalan semacam itu," tutur Nana, yang pernah aktif di beberapa instansi terkait konstruksi jalan.

Gaya sentrifugal akan membuat objek terlempar ke luar dan sentripetal membuat terlempar ke dalam, ketika kemiringan bidang di permukaan menikung itu tidak tepat. Menurut dia, hal ini juga layak dikaji ulang, terutama di jalur maut Cipularang dari kilometer 102 sampai 88 di Tol Cipularang.

Kasus akibat super elevasi melintang pernah terjadi di jalur lama yang menghubungkan Bandung dan Jakarta, melalui Puncak. Tepatnya di jembatan Leuwimalang. Pernah ada masa, banyak kendaraan yang kecelakaan dan terlempar dari jembatan tersebut.

Setelah dikaji, besaran super elevasi jalan tidak memadai. Kecelakaan berkurang drastis setelah dilakukan pelebaran jalan di tikungan menjelang jembatan. "Jadi, ada indikator super elevasi dan desain kecepatan untuk setiap jalan," papar Nana.

Misalnya, super elevasi yang dipakai adalah enam derajat dengan desain kecepatan 60 kilometer per jam, pengemudi yang ahli masih bisa aman melintas walaupun berkecepatan 80 bahkan 100 kilometer per jam. Sayangnya, bagi pengemudi yang tidak cukup lihai dan kendaraan yang tak terlalu fit, kondisi tersebut bisa berakibat berbeda ketika batas kecepatan dilanggar.

Nana juga berpendapat, faktor jalan semata belum tentu penentu dari banyaknya kecelakaan yang terjadi. Kondisi dan jenis kendaraan yang melintas pun layak menjadi pertimbangan para pengguna tol ini. "Karena kalau diamati, hampir semua kecelakaan (kecuali yang pengemudi jelas mengantuk) melibatkan mobil kecil atau minibus ringan," pungkasnya.

Redaktur: cr01
Reporter: Palupi Annisa Auliani