Seorang petugas Jasa Marga, tengah memasang rambu-rambu lalu lintas di tol Purbaleunyi KM 77 Jumat (9/9). Pemasangan rambu lalu lintas tersebut karena di daerah tersebut sering terjadi kecelakaan lalu lintas.
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Banyaknya kecelakaan di Tol Cipularang, harus ditinjau dari beragam faktor. Baik konstruksi jalan maupun kendaraan yang melintas.
Praktisi konstruksi jalan, Nana Priatna, berpendapat ada beberapa persoalan yang memicu rawannya kecelakaan terjadi di Tol Cipularang. Imbas aerodinamika akibat kendaraan mendahului, kata dia, adalah satu faktor yang sangat terasa di ruas ini.
Faktor lain yang patut dicurigai, sebut Nana, adalah super elevasi melintang dari geometrik jalan. Faktor ini terkait dengan penentu kemiringan permukaan (bukan turunan atau tanjakan, tapi sebidang yang sama), di suatu ruas yang menikung sekaligus turun atau menanjak bersamaan. "Ini yang berdampak pada gaya sentrifugal atau sentripetal dari kondisi jalan semacam itu," tutur Nana, yang pernah aktif di beberapa instansi terkait konstruksi jalan.
Gaya sentrifugal akan membuat objek terlempar ke luar dan sentripetal membuat terlempar ke dalam, ketika kemiringan bidang di permukaan menikung itu tidak tepat. Menurut dia, hal ini juga layak dikaji ulang, terutama di jalur maut Cipularang dari kilometer 102 sampai 88 di Tol Cipularang.
Kasus akibat super elevasi melintang pernah terjadi di jalur lama yang menghubungkan Bandung dan Jakarta, melalui Puncak. Tepatnya di jembatan Leuwimalang. Pernah ada masa, banyak kendaraan yang kecelakaan dan terlempar dari jembatan tersebut.
Setelah dikaji, besaran super elevasi jalan tidak memadai. Kecelakaan berkurang drastis setelah dilakukan pelebaran jalan di tikungan menjelang jembatan. "Jadi, ada indikator super elevasi dan desain kecepatan untuk setiap jalan," papar Nana.
Misalnya, super elevasi yang dipakai adalah enam derajat dengan desain kecepatan 60 kilometer per jam, pengemudi yang ahli masih bisa aman melintas walaupun berkecepatan 80 bahkan 100 kilometer per jam. Sayangnya, bagi pengemudi yang tidak cukup lihai dan kendaraan yang tak terlalu fit, kondisi tersebut bisa berakibat berbeda ketika batas kecepatan dilanggar.
Nana juga berpendapat, faktor jalan semata belum tentu penentu dari banyaknya kecelakaan yang terjadi. Kondisi dan jenis kendaraan yang melintas pun layak menjadi pertimbangan para pengguna tol ini. "Karena kalau diamati, hampir semua kecelakaan (kecuali yang pengemudi jelas mengantuk) melibatkan mobil kecil atau minibus ringan," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar